· Tim Nada Kreatif Pro
Di institusi, ide jarang gagal karena kurang kreatif. Ia lebih sering melemah di tengah jalan, dari satu persetujuan ke persetujuan berikutnya.

Hampir setiap program Kementerian dan BUMN yang kami kerjakan melewati proses persetujuan berlapis. Satu konsep bisa dibaca oleh tim teknis, humas, pimpinan unit, lalu pimpinan tertinggi. Di setiap meja, ide itu dijelaskan ulang oleh orang yang berbeda.
Karena itu kami merancang ide yang bisa dijelaskan tanpa kami di ruangan.
Satu sistem, bukan banyak elemen
Untuk Oktober Kreasi, Kementerian Ekonomi Kreatif perlu memayungi 17 subsektor dalam satu kampanye. Pilihannya: membuat elemen berbeda untuk tiap subsektor, atau satu visual system yang modular.
Kami memilih yang kedua. Spektrum yang luas lebih mudah dikomunikasikan lewat satu sistem yang konsisten. Hasilnya tampil di ruang publik, dari stasiun MRT dan Bundaran HI sampai Simpang Lima Semarang, tanpa kehilangan rasa premium.
Sistem juga lebih mudah disetujui. Pemangku kepentingan cukup memahami satu aturan, lalu melihatnya bekerja di 17 variasi.
Insight yang bisa diucapkan dalam satu kalimat
Setiap case study kami punya blok HOW WE GOT THERE: satu insight tentang audiens yang mendasari keputusan kreatif. Kalimatnya sengaja pendek, dengan pola “[audiens] lebih cepat [merespons] ketika [pendekatan]”.
Kalimat seperti ini mudah dikutip ulang di rapat internal klien. Ketika pimpinan bertanya “kenapa begini?”, tim humas punya jawaban yang sama dengan jawaban kami.
Angka sebagai bahasa bersama
Kata sifat berbeda arti di setiap meja. Angka tidak. Karena itu setiap proyek kami tutup dengan hasil yang bisa diverifikasi: transaksi, nilai penjualan, reach, atau jumlah aset yang siap pakai. Indikatornya kami sepakati sejak awal, supaya laporan akhir tidak mengejutkan siapa pun.
Pesan yang kuat bukan pesan yang paling keras. Ia pesan yang tetap utuh setelah dijelaskan ulang lima kali.